Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website Denpasar Heritage City?
Profil

2. Konsep, Dinamika Historis Dan Keragaman Pusaka Kota Denpasar



Konsep pusaka mencakup kategori pusaka alam, budaya dan saujana. Konvensi UNESCO tahun 1972 merumuskan isi konsep pusaka budaya mencakup monumen arsitektur, lukisan monumental, struktur arkeologi alami, prasasti, goa tempat tinggal yang mempunyai sifat universal dan terkemuka dari sudut pandang nilai sejarah, seni dan ilmu. Pusaka budaya wajib memenuhi lima kriteria: (1) berumur lebih dari 50 tahun; (2) terdiri atas unsur budaya benda (tangible) dan tak benda (intangible); (3) merupakan living dan dead monument; (4) merepresentasikan style tempat, periode atau gaya hidup komunitas tertentu; (5) mengandung nilai universal dan terkemuka dari sudut sejarah, seni, arkeologi, antropologi dan pengetahuan.

Kota Denpasar merupakan ibukota Provinsi Bali, salah satu dari 34 provinsi di Indonesia. Bali sebagai The Islandof Art dan The Island of Heritage dengan kekayaan, keragaman dan kejeniusan pusaka alam, budaya dan saujana telah memeperoleh tiga penghargaan Warisan Budaya Dunia dari UNESCO yaitu: Keris Pusaka (UNESCO 2015); Subak (UNESCO, 2005); dan Seni Tari Bali (UNESCO, 2015). Di Provinsi Bali telah tercakup lima kabupaten/kota ke dalam jaringan JKPI: (1) Denpasar; (2) Gianyar; (3) Buleleng; (4) Bangli; (5) Karangasem (JKPI, 2010) dan Kota Denpasar juga telah termasuk ke dalam Jaringan Kota Pusaka Dunia The Organization of World Heritage City (OWHC, 2013). Melihat potensi dulu, kini dan ke depan, seluruh dari sembilan kabupaten/kotadi Bali berdasar kekayaan, keragaman dan kejeniusan pusaka alam, budaya dan saujana bepeluang untuk bergabung ke dalam JKPI dan OWHC demi pemberdayaan, kelestaian dan keberlanjutan eksistensi pusaka bagi kehidupan, penghidupan dan harmoni lokal, nasional, global.

Masyarakat Denpasar memberikan respon yang sangat kreatif dan positip terkait pengakuan terhadap Kota Denpasar sebagai anggota JKPI dan OWHC. Tumbuh tekad dan semangat publik dalam partisipasi aktif dan respon kreatif melalui: (1) Revitalisasi Pusaka Budaya sebagai modal pembangunan kota ke depan; (2) Berkembangnya aneka festival berbasis pusaka, seperti: Denpasar Festival, Sanur Village Festival, Festival Pesona Pulau Serangan; (3) Menguatnya tradisi pusaka seperti Ritual Pangerebongan di Kesiman dan Tradisi Med-Medan di Desa Sesetan; (4) Tumbuhnya kader-kader pelestari, komunitas kreatif sampai Dewan Pusaka Kota Denpasar; (5) Berkembangnya aneka kajian, penerbitan sampai dokumentasi tentang pusaka; (6) Berkembangnya ekonomi kreatif berbasis pusaka budaya unggulan untuk peningkatan nilai tambah secara ekonomi, teknologi, edukasi dan kultural.

Di tengah respon publik yang kreatif dan partisipatif tersebut, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra juga tampil dengan rumusan konseptual tentang Monumen Maya (Intangible Monument) menyandingi dan mendampingi rumusan tentang Monumen Fisik (Tangible Monument). Monumen Maya yang dimaksud adalah bukan monumen dari tumpukan batu, pasir dan beton, melainkan adalah bangunan kesadaran berbasis filosofi humanitas, orientasi nilai keutamaan tentang kehidupan dan penghidupan, serta dukungan pilar-pilar: (1) idealisme tentang kekayaan kreativitas; (2) keluhuran budi dan ahlak; (3) kekuatan daya pikir dan taksu; (4) keikhlasan tindak; (5) semangat selalu haus dalam inovasi (wawancara khusus dengan I. B. Rai Dharmawijaya Mantra, Bawantara, 2013). Monumen maya hadir sebagai penyeimbang, penguat dan harmoni terhadap monumen fisik secara berkelanjutan. Dari Denpasar juga mulai digagas kehadiran Ilmu Pusaka, Heritologi dengan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi (Geriya, 2016).

Sejarah Kota Denpasar telah berkembang dinamik selama 228 tahun (1788 – 2016). Perjalanan lebih dari dua abad merefleksikan satu transformasi mengikuti model Continuity in Changes. Dalam garis besar, jelajah sejarah Kota Denpasar mencakup tiga representasi pokok dalam lima tahap pengembangan sebagai berikut:

Representasi 1: landasan multikultural, dari budaya rakyat sampai budaya modern
Representasi 2: landasan legal, penetapan kelahiran Kota Denpasar tanggal 27 Pebruari 1788 (Perda)
Representasi 3: landasan identitas, kota berwawasan budaya.
 

Bertumpu pada tiga representasi tersebut, Kota Denpasar sebagai kota Pusaka berkembang secara terencana dan terstruktur dalam lima tahap selama 10 tahun terakhir (2007 – 2016)

I. Tahap pengembangan data dasar, melalui berbagai pengkajian mencakup pemetaan kekayaan dan keragaman pusaka alam, budaya dan saujana;
II. Tahap pengembangan jaringan kota pusaka, melalui jaringan JKPI, BPPI sampai OWHC;
III. Tahap penguatan sinergi, melalui sinergi kota berwawasan budaya, kota kreatif sampai Denpasar kota cerdas;
IV. Tahap penguatan eksistensi, dalam bentuk penghargaan berkelas dunia melalui lembaga kebudayaan UNESCO terhadap unsur unggulan keris pusaka, subak dan seni tari Bali yang juga ada di Denpasar;
V. Tahap pengawalan berkelanjutan, sesuai amanat SDG’s (tujuan Sustainable Development Goal’s, 2015 – 2025);
(secara visual lihat diagram di bawah)
 
 

Kota Pusaka Denpasar memiliki kekayaan, keragaman dan kejeniusan pusaka alam, budaya dan saujana. Pusaka alam dijumpai di pantai sanur (the morning of Bali) dengan Hotel Inna Grand Bali Beachdan latar belakang masyarakat Desa Sanur yang kaya dengan kesenian dan sastra. Pusaka budaya yang meliputi: kesenian, sastra, tradisi, religi sampai pusaka budaya multi kultur (desa Bali, kota tua Gajah Mada, kampung Jawa, kampung Cina, kampung Arab, kampung Bugis) berkembang penuh toleransi dan harmoni di Kota Denpasar. Pusaka Saujana berkembang melalui lembaga subak yang dijumpai di beberapa lokasi, antara lain subak Sembung di Peguyangan, Denpasar Utara.

Secara holistik, pusaka Kota Denpasar meliputi ruang lingkup yang amat luas, terdiri atas: (1) pusaka alam; (2) saujana; (3) arkeologi; (4) sejarah; (5) permukiman arsitektur; (6) subak; (7) religi/agama; (8) seni, tradisi, sastra; (9) multikultur; (10) pusaka khas Denpasar.


Facebook
Twitter