Profil

1. Pendahuluan



Kota Denpasar adalah ibu kota Provinsi Bali, The Island of Art dan The Island of Heritage (Covarrubias, 1937). Kota Denpasar merupakan satu di antara sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bali, sebuah kota kategori kota menengah dengan jumlah penduduk lebih dari 880.000 jiwa dan tengah menyongsong sebagai kota metropolitan dalam tahun 2020 yang akan datang. Kota Denpasar telah berusia lebih dari dua abad dan kajian sejarah mengungkapkan bahwa kota Denpasar berdiri tanggal 27 Pebruari 1788 (Wirawan, 2013). Tanggal 27 Pebruari yang lalu, pemerintah bersama masyarakat Denpasar memperingati HUT Kota Denpasar ke-228 berbasis spirit Kota Pusaka dalam sinergi Kota Berwawasan Budaya, Kota Kreatif dan Kota Cerdas.

Tesis universal yang dikemukakan penganut Ilmu Humaniora progresif, bahwa abad XXI merupakan abad revitalisasi kebudayaan. Revitalisasi kebudayaan yang diapresiasi oleh para ilmuwan, seniman dan budayawan identik dengan kebangkitan dan kemajuan. Revitalisasi kebudayaan merupakan indikasi bahwa manusia, homosocious dengan jiwa kebudayaan kreatif dan spirit heritage, memiliki kekuatan untuk bangkit secara evolusi, akulturasi dan inovasi. Kekuatan kebudayaan dalam wujud sebagai soft-power (Nye, 2005) dalam format sistem filosofis, tata nilai, sistem mental mampu mengembangkan jaringan pusaka, diplomasi kebudayan menuju harmoni global. Filsuf Fritjoff Capra mewacanakan Titik Balik Peradaban (Capra, 2004), Shinji Yamashita memperkenalkan konsep Glokalisasi (Yamashita, 2005) dan antropolog Wayan Geriya mengintroduksi Pembangunan Berwawasan Budaya (Geriya, 2002).

Bagi masyarakat Bali dan Kota Denpasar, daerah/kota yang minus sumberdaya alam, kebudayaan lebih-lebih dalam sinergi religi, ekologi dan pariwisata merupakan potensi dan modal yang andal. Kota Denpasar telah berkembang dalam lima gelombang kebudayaan: kebudayaan rakyat, kebudayaan kraton, kebudayaan kolonial, kebudayaan nasional dan kebudayaan modern yang secara holistik merepresentasikan peradaban. Sejak kajian arkeologi, histori, antropologi, seni dan heritologi secara intensif mengangkat temuan dan informasi tentang makna pusaka, perhatian para akademisi, negarawan dan lembaga kebudayaan termasuk UNESCO sangat besar. Mereka mengapresiasi pusaka alam, budaya, saujana berskala lokal, nasional, universal. Berbagai budaya unggulan seperti keris pusaka (UNESCO, 2005), subak (UNESCO 2012), seni tari Bali (2015) memperoleh apresiasi tinggi dan ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.

Dinamika Denpasar sebagai Kota Pusaka merupakan respon kreatif dan cerdas Walikota dan Wawali Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan I Gusti Ngurah Jayanegara dalam sinergi Four Helix: birokrasi, akademisi, pengusaha dan masyarakat untuk mengakselerasi pembangunan Kota Denpasar kreatif berbasis budaya unggulan. Masyarakat kreatif mengedepankan inovasi, sinergi sampai orange economy menuju peningkatan nilai tambah secara ekonomi, teknologi, sosial, kultural. Jaringan Kota Pusaka dikembangkan dalam skala lokal, nasional, internasional. Basis komunitas dikokohkan untuk menggalang partisipasi publik. Jaringan Kota Pusaka nasional dikuatkan melalui JKPI (2010) dan BPPI (2011). Jaringan internasional dikembangkan melalui UNESCO (2012) dan OWHC (2013) sampai Strategic Meeting saat ini (2016) dalam spirit heritage menuju jaringan pemuda dan harmoni global (searah dengan tema pertemuan ini).

Denpasar sebagai Kota Pusaka telah membangun pondasi eksistensi berbasis filosofi kearifan lokal, legislasi dan kelembagaan. Filosofi Tri Hita Karana (keserasian Manusia – Tuhan, Manusia – Alam, Manusia – Manusia) merupakan basis dasar. UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya merupakan landasan legislasi. Organisasi tradisional dan Dewan Pusaka merupakan basis kelembagaan. Monumen Fisik dan Monumen Maya yang bersandar nilai-nilai utama: kreativitas, kemandirian dan spirit jengah tampil sebagai ikon Denpasar Kota Pusaka. Ke depan, peluang Denpasar sebagai Kota Pusaka meraih kemajuan dan keunggulan sangat besar. Tantangan dan isu strategis terkait kerusakan ekologi, kerapuhan infrastruktur, tekanan populasi, distorsi sosial budaya juga tidak ringan dan memerlukan solusi dengan roadmap yang holistik, dinamis, terstruktur dan terukur.


Video
Kuliner Denpasar
Facebook
Twitter